Kenapa Lontong Jadi Sajian Wajib Cap Go Meh?

35 views

Perayaan Cap Go Meh jatuh pada 26 Februari 2021. Perayaan ini merupakan perayaan yang memperingati 15 hari setelah Imlek atau Tahun Baru Cina.

Perayaan ini adalah “Perayaan Malam Utama”, karena malam 15 jatuh pada bulan pertama Imlek yang merupakan penutup perayaan Tahun Baru Imlek.

Tradisi yang tidak terlepas dari perayaan Gap Go Meh adalah menyantap lontong dan lauknya. Terdapat cerita menarik di balik lontong dan Cap Go Meh.

Sejarah Cap Go Meh

Hasan Karman selaku budayawan peranakan Singkawang sekaligus mantan Walikota Singkawang 2007-2012 menjelaskan mengenai sejarah Cap Go Meh.

Ia menyampaikannya pada webinar yang diselenggarakan Aksara Pangan mempersembahkan Seri Gastronomi Indonesia Cang Nyiat Pan.

“Perayaan Yuan Xiao Jie mulai dikenal umum. Dirayakan sebagai penutup penyambutan Musim Semi (Tahun Baru Imlek). Setelah makan malam, masyarakat menikmati keindahan bulan purnama yang sempurna,” jelas Hasan Karman pada Kamis (24/2/2021).

Dulunya perayaan Cap Go Meh dirayakan sambil menonton tarian naga (liong) dan barongsai. Kemudian, semua keluarga berkumpul dan mengadakan teka-teki maupun permainan lainnya

“Setelah itu ada santapan khas dengan menyantap sejenis makanan khas yuan xiao atau tang yuan,” tambahnya.

Cap Go Meh di Indonesia

Sejak berabad-abad yang lalu, keturunan Tionghoa banyak yang menetap di negara lain. Mereka membawa budayanya.

“Sebagai bangsa yang memiliki sejarah lebih dari 5.000 tahun, tradisi & budaya yang melekat dalam diri mereka juga turut dibawa saat beremigrasi termasuk hari-hari Anugerah,” jelas Hasan.

Di negara tempat keturunan Tionghoa tetap merayakan perayaan Cap Go Meh. Masyarakat Tionghoa di Indonesia pun merayakan Cap Go Meh.

Tak luput perayaan Tionghoa juga tak lepas dari sajian wajib.

Sejarah lontong cap go meh

“Makanan bagi warga Tionghoa adalah utama, termasuk bagi mereka yang merantau ke Nusantara. Usaha membuat makanan yang serupa dengan daerah asalnya terkendala karena beberapa bahan tidak ditemui di daerah ini,” papar Wira Hardiyansyah, Food Heritage Educator sekaligus Traveling Chef.

Wira menjelaskan, akhirnya masyarakat keturunan Tionghoa berkreasi dan berasimilasi dengan santapannya.

Para perantau yang pergi ke negeri selatan beradaptasi dengan bahan makanan yang ada, bahkan memunculkan kreasi baru.

Lontong cap go meh salah satunya, sajian asimilasi untuk perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Selain itu juga ada wedang ronde yang aslinya adalah tang yuan atau yuan xiao.

Lontong cap go meh terdiri dari lontong, opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.

Bukan sekadar hidangan, lontong cap go meh memiliki filosofi pada setiap bahannya.

“Potongan lontong yang bundar melambangkan bulan purnama dan warna putih simbol kebersihan hati. Pembuatan lontong diilhami dari cara memasak bacang,” jelas Wira.

Wira menjelaskan bahwa lontong cap go meh disajkan dengan ayam opor kuah santan kuning atau putih. Kuliner peranakan tersebut tidak dapat menghindari pemakaian santan.

Karakteristik santan yang kaya rasa memberikan kekhasan luar biasa dalam sajian yang menggunakannya sehingga sering diistilahkan dengan signature dish.

Lontong cap go meh sangat jauh dengan sajian khas Tiongkok murni yang tidak memiliki rasa yang kaya, rumit, dan kompleks karena lebih menekankan cita rasa asli.

“Misal sawi masih terasa seperti sawi, ayam masih seperti ayam rebus yang belum ‘tercemari’ hiruk-pikuk bumbu,” pungkas Wira.